Hidup Dalam Pengharapan

Renungan Rekoleksi Bulan September 2021
Komunitas Santa Elisabeth

Luk 12:22-34;
Pkh 3:1-5;  AngTBul 2:1-12
Manusia mempunyai kecenderungan untuk berpikir tentang hidup di masa yang akan datang yang belum diketahui. Banyak harapan dan rencana – rencana yang diprogramkan untuk mempersiapakannya. Dengan sikap optimis dan kegembiraan yang diwujudkan lewat usaha dan kemampuan yang dimilikinya. Namun tidak jarang juga ditemukan bahwa untuk memikirkan hari esok muncul rasa kekwatiran, kegelisahan, rasa pesimis dan putus asa. Pada zaman ini kerap kali ditemukan orang-orang yang stress, putus asa karena kegelisahan hidupnya dalam memikirkan hidup untuk di masa yang akan datang. Sebagai orang beriman dan yang terpanggil secara khusus menjadi seorang religius diharapkan mampu menjadi sumber sukacita / kegembiraan, karena dimana religius berada disitu ada suka cita dan kegembiraan ~ Pengantar
Seiring dengan laju pertumbuhan ekonomi dan teknologi semakin canggih, kebutuhan hidup manusia pun tidak pernah habisnya bahkan semakin meningkat setiap hari baik itu kebutuhan akan materi (makanan dan harta) maupun kebutuhan akan gaya hidup atau penampilan. Jika tidak disikapi dengan bijak maka bisa muncul rasa putus asa dan stress. Hal ini memicu kita untuk memikirkannya sehingga timbul rasa kuatir atau cemas.  Ada banyak macam kekuatiran yang dialami manusia, seperti halnya kita kaum religius kadang kita kita kuatir akan panggilan hidup kita, akankah saya bertahan dan setia pada jalan Tuhan? Kuatir akan rasa aman atau harga diri. Ketika mengalami masalah dalam hidup, kita sibuk memikirkan kapankah hal ini akan berlalu? Saat ini, yang menjadi kekuatiran banyak orang / dunia adalah kapankah Pandemi Covid-19 akan berakhir? Tidak ada jawaban yang pasti. Dalam kenyataannya, rasa kuatir kerap menggeser rasa syukur yang seharusnya ada saat kebutuhan-kebutuhan dasar kita terpenuhi.
Tugas kita ialah percaya kepada kemurahan hati Allah, yakin bahwa Allah selalu hadir dalam seluruh perjalanan hidup manusia dalam keadaan apapun.

Dalam injil Luk 12:22-34, Yesus telah memberikan kiat-kiatnya / petunjuk kepada kita supaya tidak perlu kuatir dengan semuanya itu karena hal itu dicari oleh orang yang tidak mengenal Allah. Yesus memberikan contoh yang patut kita renungkan seperti kehidupan burung-burung gagak yang selalu diberi makan oleh Allah, bunga bakung nan indah, juga Salomo dalam segala kemegahannya pun tidak berpakaian seindah satu dari bunga itu.
Dalam perikop sebelumnya, pada injill Lukas 12:13-21, Yesus menegur orang kaya yang bodoh. Yesus menyebutnya bodoh karena  telah menimbun harta bagi dirinya. Kata Yesus: Hai engkau orang bodoh, pada malam ini juga, jiwamu akan diambil dari padamu dan apa yang telah kau sediakan, untuk siapakah itu nanti? Demikianlah nasib orang kaya itu. Yesus menegaskan bahwa materi atau segala sesuatu yang kita miliki itu hanyalah sementara tak ada gunanya jikalau tidak kaya dihadapan Allah.  Lalu apa maksudnya tidak kaya di hadapan Allah? Pada ayat 31 Yesus berkata: tetapi carilah kerajaan-Nya maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu karena Bapa-Mu di surga sesungguhnya mengetahui apa yang kamu butuhkan.
Hidup dalam kerajaan-Nya, memang tidak mudah butuh perjuangan. Mengapa? Karena hal ini menuntut suatu komitmen dan disiplin hidup. Hidup berkecukupan di zaman sekarang mempunyai tantangan tersendiri bagi kita karena manusia mempunyai kecenderungan untuk mengumpulkan segala sesuatu bagi dirinya, ingin hidup lebih mapan dan terus mencari kepuasan diri.
Namun sesungguhnya orang yang memiliki hubungan dengan Yesus tentu memulai hidupnya dari praktek-praktek hidup yang benar setiap hari sekalipun sangat sepele. Orang bijak mengatakan senantiasa bertekun dalam hal-baik baik setiap hari dan selalu hidup berkecukupan dan tidak lebih dari itu.
Yesus memberi jaminan hari depan yang penuh harapan supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya fokus dalam melakukan tugas panggilan. Lagi pula tidak pantas kalau murid-murid-Nya larut dalam kecemasan yang sia-sia karena memikirkan dan menginginkan hal yang sesungguhnya tidak perlu.
Pengkotbah memberitahu kepada kita bahwa segala sesuatu ada waktunya. Karena itu  semua sudah disediakan Allah yang maha baik bagi kita manusia. Kita dianugerahkan ketiga kaul: kemiskinan, kemurnian dan ketaatan yang menjadi tuntunan bagi kita untuk selalu setia mengikuti jalan Tuhan  (gd).